Misteri OTT Bupati Cilacap: Pemerasan SKPD untuk Dana THR Lebaran Terungkap – Kompas.com

misteri ott bupati cilacap terungkap: pemerasan skpd untuk dana thr lebaran yang melibatkan pejabat daerah diungkap oleh kompas.com.

Di balik tradisi berbagi saat Lebaran, ada ruang gelap yang kerap luput dari sorotan: tekanan informal di birokrasi yang dibungkus “patungan”. Misteri yang semula beredar sebagai bisik-bisik di lingkungan pemerintah daerah akhirnya terungkap lewat OTT yang menyeret Bupati Cilacap dan sejumlah pejabat kunci. Dugaan pemerasan terhadap jajaran SKPD untuk menghimpun dana THR bukan sekadar cerita tentang uang tunai, melainkan gambaran tentang bagaimana relasi kuasa bekerja: instruksi turun berjenjang, rasa takut mutasi jabatan, hingga budaya “jangan jadi yang berbeda” yang membuat penolakan terasa mahal. Di saat masyarakat merayakan pulang kampung dan ketupat, sebagian aparatur justru menghadapi dilema etika—membayar agar aman, atau menolak dengan risiko karier. Kasus ini menyalakan kembali perdebatan lama: apakah praktik semacam itu gratifikasi, pemerasan, atau sudah menjadi “kebiasaan” yang dinormalisasi? Lebih penting lagi, bagaimana rantai perintah dan jalur distribusi uang bisa dilacak, dan siapa saja yang pada akhirnya menikmati hasilnya?

Misteri OTT Bupati Cilacap: Kronologi Pemerasan SKPD untuk Dana THR Lebaran yang Terungkap

Perkara yang mengguncang Cilacap ini bermula dari pola pengumpulan uang yang disebut-sebut rutin muncul menjelang hari raya. Dalam narasi yang beredar di kalangan pegawai, “patungan” biasanya dimaknai sebagai kontribusi sukarela. Namun pada titik tertentu, kata itu berubah arti ketika disertai tekanan, target nominal, dan ancaman tersirat. Di sinilah OTT menjadi momentum yang membuka tabir: pengumpulan dana untuk THR diduga tidak lagi berbasis kerelaan, melainkan pemerasan yang menempel pada jabatan dan kewenangan.

Menurut alur yang terungkap di proses penindakan, Bupati periode 2025–2030 diduga memberi arahan kepada pejabat administratif tertinggi—sekretaris daerah—untuk mengoordinasikan penarikan dari banyak unit kerja. Skemanya tidak dilakukan satu pintu lewat kas daerah, melainkan lewat jalur informal: komunikasi personal, daftar target, dan pengumpulan uang tunai. Ketika uang bergerak di luar mekanisme resmi, jejak administrasi menghilang, dan pembuktian biasanya mengandalkan operasi lapangan, keterangan saksi, serta barang bukti.

Target, realisasi, dan barang bukti: bagaimana angka menjadi cerita

Salah satu detail yang memancing perhatian publik adalah besaran target dan realisasi. Target pengumpulan sempat disebut mengarah ke kisaran Rp750 juta. Dalam perkembangan penindakan, uang yang berhasil diamankan penyidik berada di kisaran Rp610 juta, terkumpul dari puluhan unit kerja—termasuk perangkat daerah, fasilitas layanan kesehatan daerah, hingga jaringan puskesmas. Perbedaan target dan realisasi ini penting: ia menunjukkan ada sistem kuota, tetapi tidak semua pihak memenuhi atau sempat menyetor sebelum operasi berlangsung.

Uang tunai sebagai barang bukti juga menyiratkan cara kerja jaringan: cepat, sulit dilacak, dan mudah didistribusikan. Dalam banyak kasus, uang tunai dipilih agar tidak memunculkan jejak transfer. Namun justru karena bentuknya fisik, uang tunai sangat rentan tertangkap saat transaksi atau saat berada dalam penguasaan pihak tertentu—dan itulah momen yang biasanya dicari dalam OTT.

Ilustrasi kasus: “Pak Raka” dan dilema menolak setoran

Bayangkan figur fiktif, “Pak Raka”, kepala bidang di salah satu dinas. Ia menerima pesan singkat dari atasan: ada kebutuhan “kebersamaan” untuk THR Lebaran, nominalnya disebutkan, dan diminta segera. Pak Raka paham konsekuensi birokrasi: penilaian kinerja, rotasi, hingga akses program. Ia juga paham bahwa uang itu tidak tercantum dalam aturan belanja, tidak ada kuitansi, dan tidak ada pos yang bisa dipertanggungjawabkan. Apakah ia menolak dan dicap tidak kooperatif, atau membayar agar roda kerja tetap lancar?

Dalam konteks seperti ini, tekanan tidak harus berupa ancaman tertulis. Cukup dengan kalimat “nanti kita evaluasi” atau “jangan bikin suasana” untuk menumbuhkan rasa takut. Inilah mengapa dugaan pemerasan sulit dibaca jika hanya memakai kacamata administrasi; ia hidup dalam relasi kuasa dan kultur organisasi.

Gema kasus ini mengalir ke pertanyaan berikutnya: jika uang dikumpulkan, ke mana ia akan pergi? Di situlah pembahasan bergeser pada distribusi, penerima, dan peran pihak eksternal.

terungkapnya kasus ott bupati cilacap yang melibatkan pemerasan skpd untuk dana thr lebaran, mengungkap sisi gelap korupsi di pemerintahan daerah.

Modus Pemerasan THR di Cilacap: Rantai Perintah, Ancaman Rotasi, dan Peran SKPD

Modus yang banyak dibicarakan dalam kasus ini bukan sekadar “mengumpulkan uang”, melainkan rangkaian perintah yang mengalir dari puncak ke bawah. Ketika seorang Bupati memiliki kendali atas mutasi, promosi, dan alokasi ruang gerak birokrasi, perintah informal bisa terasa sama kuatnya dengan surat resmi. Karena itu, dugaan pemerasan kerap bekerja melalui dua lapis: lapis instruksi dan lapis ketakutan.

Dalam pola yang terungkap, sekretaris daerah diduga menjadi simpul koordinasi: menghubungi kepala dinas, meminta komitmen setoran, memastikan terkumpul, lalu mengatur penyerahan. Berbeda dengan pungutan liar di layanan publik yang terjadi di loket, praktik semacam ini menyasar internal pemerintahan. Para kepala dinas dan unit pelaksana teknis berada pada posisi sulit: mereka bukan “pelanggan layanan”, melainkan bagian dari sistem yang menilai dan dinilai.

Kenapa SKPD rentan? Karena mereka punya anggaran dan jaringan

SKPD memegang kendali program, pengadaan, dan hubungan dengan banyak pihak. Walau uang yang dikumpulkan dalam kasus THR diduga berasal dari kantong pribadi pejabat atau “urunan”, konteks anggaran membuat tekanan lebih kompleks. Seorang kepala dinas bisa saja merasa “dituntut” untuk mencari cara apa pun agar setoran terpenuhi, termasuk menekan bawahan atau memobilisasi jejaring internal. Di sinilah risiko merembet: satu perintah bisa melahirkan banyak tindakan kecil yang masing-masing melanggar etika.

Di lapangan, bahasa yang dipakai sering dibuat halus. Alih-alih “pungutan”, istilahnya “partisipasi”. Alih-alih “target”, disebut “kebutuhan”. Namun ketika nominal ditetapkan, daftar unit disusun, dan tenggat dipasang, garisnya bergeser dari sukarela menjadi paksaan. Terlebih jika ada cerita ancaman rotasi jabatan bagi yang tidak ikut—meski ancaman itu tidak selalu diucapkan secara eksplisit di forum.

Daftar tanda-tanda pemerasan berkedok patungan THR

Untuk membantu pembaca membedakan mana tradisi solidaritas dan mana penyalahgunaan kuasa, berikut indikator yang sering muncul ketika “patungan” berubah menjadi pemerasan:

  • Nominal ditentukan dan tidak mempertimbangkan kemampuan individu.
  • Target lembaga dipatok per dinas/unit, bukan sumbangan personal.
  • Tenggat ketat dan pengingat berulang dari pejabat berwenang.
  • Ancaman karier tersirat: rotasi, evaluasi, atau pemangkasan akses program.
  • Penyerahan tunai tanpa catatan, kuitansi, atau mekanisme pertanggungjawaban.
  • Alasan kabur: “untuk kepentingan bersama” tanpa rincian penerima dan penggunaan.

Indikator-indikator ini penting karena banyak orang terjebak pada rasionalisasi: “semua juga melakukan.” Padahal, normalisasi adalah bahan bakar utama praktik menyimpang. Jika dibiarkan, praktik itu menciptakan standar baru: loyalitas diukur dari amplop, bukan dari kinerja.

Setelah modus dipahami, perhatian publik biasanya bergeser ke dua hal: siapa penerima akhir, dan apa hubungan dugaan setoran THR dengan ekosistem kekuasaan lokal seperti forum koordinasi pimpinan daerah.

Untuk memahami dinamika kasus serupa, banyak orang juga membandingkannya dengan liputan dan diskusi publik tentang OTT dan gratifikasi di pemerintahan daerah.

Dana THR Lebaran dan Dugaan Distribusi: Forkopimda, Penerima Eksternal, dan Jejak Uang Tunai

Salah satu bagian paling sensitif dalam perkara OTT ini adalah pembicaraan tentang arah distribusi uang: apakah semata untuk kebutuhan pribadi pejabat, untuk “pemberian” kepada pihak eksternal, atau gabungan keduanya. Dalam banyak kasus korupsi, pertanyaan “siapa menikmati” adalah kunci pembuktian motif. Ketika uang dihimpun dari SKPD, narasi yang kerap dipakai adalah “THR untuk kebersamaan” atau “santunan relasi.” Namun hukum melihatnya melalui dua parameter: ada tidaknya paksaan dan ada tidaknya penyalahgunaan kewenangan.

Dalam konteks ini, nama Forkopimda ikut disebut dalam percakapan publik, karena forum tersebut beririsan dengan aktivitas koordinasi daerah menjelang hari besar. Penting untuk membedakan: sebuah forum koordinasi adalah lembaga yang sah, tetapi “pemberian” yang dikumpulkan lewat tekanan birokrasi berpotensi menjadi persoalan serius. Penyidik biasanya menelusuri apakah ada penerima di luar struktur pemda, bagaimana mekanisme penyerahan, dan apakah penerima mengetahui sumber uang.

Kenapa uang tunai membuat penyelidikan sekaligus mudah dan rumit?

Uang tunai memudahkan distribusi cepat, tetapi menyulitkan pelacakan digital. Namun dalam penindakan, uang tunai justru memberi titik tangkap yang jelas: siapa memegang, kapan diserahkan, dan di mana transaksi terjadi. Ketika uang ditemukan dalam jumlah besar di momen tertentu, narasi “sekadar patungan biasa” menjadi sulit dipertahankan—terutama bila ada daftar setoran, percakapan koordinasi, atau saksi yang menguatkan.

Di sisi lain, uang tunai membuka ruang pembelaan: “itu titipan”, “itu dana sosial”, “itu belum dibagikan”. Karena itu, rangkaian bukti harus saling mengunci: keterangan pihak yang diminta menyetor, pihak yang mengumpulkan, dan pihak yang diduga mengarahkan. Dalam kasus Cilacap, angka Rp610 juta yang diamankan menjadi jangkar kuat untuk membangun kronologi pergerakan uang.

Tabel ringkas alur dugaan pengumpulan dan distribusi THR

Tahap
Aktor yang Terlibat
Bentuk Kegiatan
Risiko Penyalahgunaan
Instruksi
Bupati dan simpul pimpinan
Arahan informal pengumpulan dana THR
Penyalahgunaan kewenangan, tekanan struktural
Koordinasi
Sekda/pejabat penghubung
Memetakan unit target, menagih komitmen
Pemaksaan, pengaburan tujuan
Pengumpulan
SKPD, RSUD, puskesmas
Setoran tunai per unit/pejabat
Normalisasi pungutan, potensi sumber dana tidak jelas
Penyimpanan
Pengumpul dana
Penempatan uang sebelum dibagi
Penggelapan, perubahan rencana distribusi
Distribusi
Penerima internal/eksternal
Penyaluran amplop/THR jelang Lebaran
Gratifikasi, konflik kepentingan

Tabel ini tidak menggantikan temuan resmi, tetapi membantu melihat logika yang biasanya disasar penyidikan: dari perintah hingga dampaknya. Pada akhirnya, isu “penerima” akan menentukan luasnya perkara—apakah berhenti pada pengumpulan, atau merembet ke jejaring yang lebih besar.

Pada titik ini, pembahasan bergeser dari alur uang ke alur budaya: mengapa praktik semacam ini bisa bertahan, dan kenapa para aparatur sering memilih diam.

Perbincangan publik tentang gratifikasi dan etika pemberian THR di instansi juga sering muncul di berbagai kanal diskusi kebijakan.

Budaya Kekuasaan di Pemerintahan Daerah: Mengapa Pemerasan THR Bisa Terjadi dan Sulit Dilawan

Kasus di Cilacap memaksa kita menengok sisi manusiawi birokrasi: ada rasa sungkan, ada hierarki, ada ketergantungan pada penilaian atasan. Ketika semua itu bertemu dengan momen sosial besar seperti Lebaran, “kebutuhan simbolik” menjadi alasan yang mudah diterima. Memberi THR memang lazim di sektor swasta, tetapi dalam pemerintahan, pemberian yang terkait jabatan dan kewenangan menuntut kehati-hatian ekstra. Jika tidak, ia berubah menjadi jalur pintas untuk menegaskan dominasi.

Salah satu akar persoalan adalah asimetrisnya kuasa. Kepala daerah berwenang menentukan rotasi, menandatangani penugasan, dan memengaruhi akses proyek. Dalam situasi seperti itu, permintaan yang terdengar santai bisa dipersepsi sebagai perintah wajib. Banyak aparatur memilih “mengamankan posisi” karena mereka juga memikirkan nasib tim, program yang sedang berjalan, serta tekanan keluarga. Apakah ini pembenaran? Tidak. Namun ini menjelaskan mengapa perlawanan sering tidak muncul secara terbuka.

Efek domino: dari satu amplop ke iklim kerja

Ketika urunan THR dilakukan dengan paksaan, dampaknya menjalar. Pertama, ia merusak meritokrasi. Orang yang patuh menyetor merasa berhak mendapat perlakuan khusus. Orang yang kritis dicap tidak loyal. Kedua, ia mendorong praktik “cari sumber” yang berbahaya: memotong perjalanan dinas, mengakali kegiatan, atau menekan bawahan untuk ikut menanggung. Ketiga, ia mengikis layanan publik secara tidak langsung karena energi organisasi tersedot untuk mengurus kebutuhan elite.

Bayangkan unit pelayanan di puskesmas yang harus mengatur shift, obat, dan keluhan warga. Ketika pimpinan unit dipaksa memikirkan setoran, fokusnya terpecah. Pada akhirnya warga tidak melihat amplop, tetapi merasakan antrian lebih lama atau koordinasi yang kacau. Inilah sisi yang sering tidak tertangkap dalam berita: korupsi kecil di internal bisa memantul menjadi ketidaknyamanan besar bagi publik.

Rasionalisasi yang sering dipakai—dan cara membantahnya

Dalam percakapan kantor, ada beberapa kalimat yang kerap dipakai untuk menormalkan pungutan:

“Ini tradisi, sudah dari dulu.” Tradisi tidak pernah boleh mengalahkan aturan dan etika jabatan. Jika sebuah kebiasaan lahir dari ketakutan, itu bukan tradisi; itu mekanisme kontrol.

“Jumlahnya tidak seberapa dibanding anggaran.” Nilai kecil tetap bisa menjadi tindak pidana bila ada paksaan atau penyalahgunaan kewenangan. Lagi pula, yang dirusak bukan hanya uang, tetapi integritas sistem.

“Kalau menolak, pekerjaan kita disulitkan.” Ini pengakuan bahwa ada relasi kuasa yang tidak sehat. Justru karena itu, mekanisme perlindungan pelapor dan jalur pengaduan harus dipakai.

Argumen-argumen ini memperlihatkan bahwa akar masalah bukan semata individu, melainkan iklim organisasi. Maka, pembenahan tidak cukup berhenti pada penindakan; perlu pencegahan yang memotong ruang negosiasi gelap—dan di sinilah pembahasan beralih ke tata kelola dan transparansi.

Dari Terungkap ke Pencegahan: Tata Kelola THR, Transparansi, dan Pelajaran untuk SKPD di 2026

Ketika sebuah OTT membuat kasus terungkap, publik sering menunggu babak berikutnya: apa yang berubah setelahnya? Pelajaran dari perkara di Cilacap adalah perlunya “desain pencegahan” yang realistis, bukan sekadar slogan antikorupsi. Pencegahan harus mengakui fakta bahwa momen hari raya menciptakan tekanan sosial: ada ekspektasi memberi, ada budaya sungkan, dan ada relasi kuasa. Tugas tata kelola adalah memastikan ekspektasi itu tidak menabrak hukum dan etika jabatan.

Memisahkan yang sosial dari yang struktural

Jika ada kebutuhan kebersamaan internal, ia harus dipisahkan dari jabatan. Artinya, tidak boleh ada instruksi dari pimpinan yang punya kewenangan mutasi atau anggaran. Kegiatan sosial yang sehat biasanya memiliki ciri: panitia sukarela lintas level, kontribusi anonim atau fleksibel, dan laporan penggunaan dana yang bisa dibaca semua peserta. Begitu ada “daftar wajib” per dinas, kegiatan sosial berubah menjadi proyek kekuasaan.

Di tingkat pemerintah daerah, langkah konkret yang bisa dilakukan adalah membuat pedoman internal tentang kegiatan sosial pegawai menjelang hari besar. Pedoman itu bukan untuk melarang silaturahmi, melainkan untuk menutup celah tekanan. Misalnya: larangan pengumpulan uang tunai atas nama jabatan, kewajiban dokumentasi untuk kegiatan sukarela, dan kanal pelaporan cepat bila ada permintaan setoran.

Contoh kebijakan internal yang bisa diterapkan tanpa menghambat kerja

Berikut contoh paket pencegahan yang relatif ringan namun berdampak:

  • Surat edaran etika hari raya yang menegaskan batasan pemberian, termasuk larangan permintaan “patungan” oleh pejabat struktural.
  • Penguatan whistleblowing system yang mudah diakses pegawai, dengan opsi anonim dan perlindungan.
  • Audit tematik jelang Lebaran untuk memantau aktivitas pengumpulan dana informal di unit berisiko tinggi.
  • Pelatihan singkat untuk kepala unit tentang membedakan sumbangan sukarela dan pemerasan terselubung.
  • Transparansi kegiatan sosial: bila ada urunan murni sukarela, gunakan rekening panitia, bukan uang tunai, dan umumkan laporan.

Paket ini juga membantu melindungi pejabat yang sebenarnya ingin bersih. Banyak orang baik di birokrasi tidak punya instrumen untuk menolak selain alasan personal. Ketika organisasi menyediakan aturan yang tegas, penolakan tidak lagi dianggap pembangkangan, melainkan kepatuhan.

Catatan tentang privasi dan jejak digital dalam konsumsi berita

Di era konsumsi berita yang serba cepat, pembaca mengikuti perkembangan kasus melalui mesin pencari, portal berita, dan platform video. Di sana, pengalaman membaca sering dipengaruhi pengaturan privasi: apakah seseorang menerima semua cookie untuk personalisasi, atau memilih menolak pelacakan tambahan. Secara umum, cookie dipakai untuk menjaga layanan tetap berjalan, mengukur keterlibatan audiens, serta melindungi dari spam dan penipuan. Ketika personalisasi diaktifkan, rekomendasi konten dan iklan bisa menyesuaikan riwayat penelusuran; ketika ditolak, konten tetap tampil tetapi lebih dipengaruhi konteks halaman dan lokasi umum.

Mengapa relevan dalam kasus ini? Karena persepsi publik terbentuk dari arus informasi yang mereka lihat setiap hari. Memahami cara platform mengkurasi konten membantu pembaca menjaga jarak kritis: membandingkan sumber, memeriksa konteks, dan tidak terjebak narasi tunggal. Pelajaran akhirnya sederhana: kasus korupsi bukan hanya soal penindakan, melainkan juga soal literasi publik agar tekanan sosial tidak lagi jadi selimut bagi penyalahgunaan kuasa.

Dari sini, sorotan kembali pada pertanyaan praktis yang sering diajukan masyarakat dan aparatur: apa yang sebenarnya boleh dan tidak boleh terkait THR, dan bagaimana bersikap bila diminta menyetor.

{“@context”:”https://schema.org”,”@type”:”FAQPage”,”mainEntity”:[{“@type”:”Question”,”name”:”Apa bedanya THR yang sah dengan pengumpulan dana THR yang berpotensi pemerasan?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”THR yang sah umumnya berbasis aturan ketenagakerjaan atau kebijakan resmi lembaga, dengan mekanisme akuntabel. Pengumpulan dana THR yang berpotensi pemerasan biasanya ditandai paksaan/tekanan dari pejabat berwenang, target nominal, penyerahan tunai tanpa pertanggungjawaban, dan adanya konsekuensi karier jika menolak.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Jika pegawai SKPD diminta ikut setoran menjelang Lebaran, apa langkah aman yang bisa dilakukan?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Minta penjelasan tertulis mengenai tujuan, panitia, dan mekanisme pertanggungjawaban. Hindari penyerahan tunai tanpa kuitansi. Gunakan kanal pengaduan internal atau whistleblowing system bila ada tekanan, terutama bila permintaan datang dari atasan yang punya kewenangan mutasi atau evaluasi kinerja.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Mengapa OTT sering menemukan uang tunai dalam kasus seperti ini?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Uang tunai dipilih karena cepat dan minim jejak transaksi perbankan, sehingga dianggap lebih aman oleh pelaku. Namun uang tunai justru rentan tertangkap saat pengumpulan/penyerahan, dan bisa menjadi barang bukti kuat ketika ditemukan bersama petunjuk lain seperti percakapan koordinasi atau daftar setoran.”}},{“@type”:”Question”,”name”:”Apakah menyebut Forkopimda otomatis berarti semua anggotanya terlibat?”,”acceptedAnswer”:{“@type”:”Answer”,”text”:”Tidak. Penyebutan forum atau pihak eksternal dalam narasi kasus tidak otomatis membuktikan keterlibatan. Penyidik biasanya menelusuri apakah ada penerimaan, apakah penerima mengetahui sumber uang, dan apakah ada kaitan dengan kewenangan. Penentuan peran tiap pihak bergantung pada bukti dan proses hukum.”}}]}

Apa bedanya THR yang sah dengan pengumpulan dana THR yang berpotensi pemerasan?

THR yang sah umumnya berbasis aturan ketenagakerjaan atau kebijakan resmi lembaga, dengan mekanisme akuntabel. Pengumpulan dana THR yang berpotensi pemerasan biasanya ditandai paksaan/tekanan dari pejabat berwenang, target nominal, penyerahan tunai tanpa pertanggungjawaban, dan adanya konsekuensi karier jika menolak.

Jika pegawai SKPD diminta ikut setoran menjelang Lebaran, apa langkah aman yang bisa dilakukan?

Minta penjelasan tertulis mengenai tujuan, panitia, dan mekanisme pertanggungjawaban. Hindari penyerahan tunai tanpa kuitansi. Gunakan kanal pengaduan internal atau whistleblowing system bila ada tekanan, terutama bila permintaan datang dari atasan yang punya kewenangan mutasi atau evaluasi kinerja.

Mengapa OTT sering menemukan uang tunai dalam kasus seperti ini?

Uang tunai dipilih karena cepat dan minim jejak transaksi perbankan, sehingga dianggap lebih aman oleh pelaku. Namun uang tunai justru rentan tertangkap saat pengumpulan/penyerahan, dan bisa menjadi barang bukti kuat ketika ditemukan bersama petunjuk lain seperti percakapan koordinasi atau daftar setoran.

Apakah menyebut Forkopimda otomatis berarti semua anggotanya terlibat?

Tidak. Penyebutan forum atau pihak eksternal dalam narasi kasus tidak otomatis membuktikan keterlibatan. Penyidik biasanya menelusuri apakah ada penerimaan, apakah penerima mengetahui sumber uang, dan apakah ada kaitan dengan kewenangan. Penentuan peran tiap pihak bergantung pada bukti dan proses hukum.

Berita terbaru
israel mengajak lebanon untuk bernegosiasi dalam upaya menuntut pelucutan senjata hizbullah. baca berita terbaru dan perkembangan terkini hanya di detiknews.
Israel Ajak Lebanon Negosiasi untuk Menuntut Pelucutan Senjata Hizbullah – detikNews
iran bersiap untuk bangkit dan melawan setelah pelanggaran gencatan senjata oleh israel, laporkan metrotvnews.com.
Iran Bersiap Bangkit Melawan Setelah Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Israel – MetroTVNews.com
ikuti jejak kronologis pernyataan trump selama konflik iran hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata, hanya di detiknews.
Jejak Kronologis Pernyataan Trump Sepanjang Konflik Iran hingga Kesepakatan Gencatan Senjata – detikNews
trump mengancam serangan bom ke pembangkit listrik, sementara iran mengajak warga membentuk rantai manusia sebagai benteng perlindungan.
Trump Mengancam Serangan Bom ke Pembangkit Listrik, Iran Ajak Warga Bentuk Rantai Manusia sebagai Benteng
misi berani penyelamatan pilot f-15 di iran yang melibatkan puluhan jet tempur dan peran penting cia, mengungkap operasi rahasia penuh risiko dan strategi militer terkini.
Misi Berani Penyelamatan Pilot F-15 di Iran: Dari Puluhan Jet Tempur hingga Peran CIA – detikNews
Berita terbaru