- Pertumbuhan startup Fintech di Jakarta dan Surabaya makin terasa karena pasar ritel makin digital dan kebutuhan solusi B2B meningkat.
- Tren bergeser dari “bakar uang” menuju profitabilitas, efisiensi unit ekonomi, dan tata kelola yang lebih disiplin.
- Pendanaan eksternal tidak lagi menjadi tujuan semua pemain; makin banyak yang memilih bertumbuh dari arus kas, sambil selektif mencari investor strategis.
- Inovasi teknologi (AI, Big Data, keamanan informasi) jadi pembeda utama—sekaligus memunculkan tantangan talenta.
- Investasi pada keamanan dan kepatuhan meningkat, seiring standar seperti ISO/IEC 27001 makin umum dipakai untuk membangun kepercayaan.
Di tengah percepatan ekonomi digital, peta persaingan Startup Fintech Indonesia terlihat semakin jelas: Jakarta tetap menjadi pusat gravitasi pengguna dan modal, sementara Surabaya tampil sebagai mesin eksekusi yang kuat—dekat dengan jaringan perdagangan Jawa Timur, manufaktur, logistik, dan UMKM yang butuh solusi pembayaran, pembiayaan, serta manajemen kas yang rapi. Menariknya, memasuki siklus pasar terbaru, cerita tidak lagi semata soal ekspansi agresif, melainkan tentang siapa yang mampu membangun bisnis yang tahan banting: patuh regulasi, aman dari fraud, dan benar-benar relevan bagi sektor riil. Data asosiasi industri pada 2024–2025 mengindikasikan fase “pendewasaan” mulai dominan: kepatuhan kode etik membaik, standar keamanan makin merata, dan perusahaan lebih selektif dalam menggalang Pendanaan. Di saat yang sama, perilaku pasar bergeser: korporasi makin percaya pada solusi B2B, sementara konsumen ritel makin menuntut layanan cepat sekaligus perlindungan. Dengan latar itu, tahun berjalan menjadi momen penting untuk membaca Tren—dari cara founder menata strategi Investasi teknologi hingga cara kota seperti Surabaya menegaskan identitasnya di luar bayang-bayang ibu kota.
Pertumbuhan Startup Fintech Jakarta–Surabaya: dua kota, dua mesin ekonomi
Jika Jakarta sering dibahas sebagai pusat Investasi dan talenta digital, Surabaya menawarkan pembeda yang tak kalah penting: kedekatan dengan arus barang, jaringan distributor, pelabuhan, dan basis UMKM yang padat. Kombinasi ini membuat Pertumbuhan Startup Fintech di dua kota terasa “berbeda rasanya”. Di Jakarta, banyak pemain tumbuh dari model produk yang cepat diadopsi massal—dompet digital, paylater, agregator keuangan, hingga layanan wealth sederhana. Di Surabaya, akselerasi sering datang dari kebutuhan operasional bisnis: pembayaran grosir, pembiayaan invoice, manajemen kas, integrasi POS, dan solusi untuk rantai pasok.
Agar lebih terasa nyata, bayangkan kisah fiktif “Raka” (founder berbasis Jakarta) dan “Dini” (operator bisnis keluarga di Surabaya). Raka membangun platform pembayaran untuk merchant gaya hidup di Jabodetabek, lalu menemukan tantangan: biaya akuisisi pengguna naik, sementara pelanggan makin sensitif terhadap keamanan. Dini, yang mengelola distribusi bahan makanan untuk ratusan warung, justru pusing dengan pencatatan piutang dan ketidakpastian pembayaran dari reseller. Ketika Dini mengadopsi solusi Fintech berbasis B2B—pembiayaan invoice plus rekonsiliasi otomatis—dampaknya langsung terasa pada arus kas. Dua cerita ini menggambarkan mengapa pendekatan kota berbeda, namun sama-sama relevan bagi ekonomi.
Secara industri, fase 2024–2025 menunjukkan sektor Fintech Indonesia menguat dari sisi fondasi: tata kelola, keamanan digital, ekspansi pasar, dan ketahanan model bisnis. Pernyataan pimpinan asosiasi industri menekankan bahwa industri bergerak menuju fase matang: inovasi harus ditopang governance yang tegas dan perlindungan konsumen yang kuat. Di tingkat kota, sinyal “kematangan” itu tercermin pada makin seringnya kemitraan dengan bank, koperasi, dan perusahaan logistik—bukan sekadar mengejar unduhan aplikasi.
Di Jakarta, konsentrasi pengguna masih dominan karena daya beli, kepadatan layanan, serta kedekatan dengan regulator dan ekosistem modal ventura. Namun ekspansi ke luar metro makin kuat, terutama untuk produk yang memanfaatkan jalur distribusi bisnis—di sinilah Surabaya kerap menjadi pintu masuk Jawa Timur dan Indonesia Timur. Untuk membaca ekosistem secara lebih menyeluruh, banyak pelaku industri merujuk laporan dan kompilasi data seperti statistik fintech Indonesia di Statista atau ringkasan dinamika pasar pada Kompaspedia yang menyorot literasi dan adopsi layanan keuangan digital.
Yang sering luput dibahas adalah pengaruh budaya bisnis. Jakarta cenderung mendorong eksperimen cepat, pitch-deck tajam, dan perebutan perhatian investor. Surabaya lebih “diam-diam menghanyutkan”: fokus pada reliability, hubungan jangka panjang, dan pembuktian manfaat di lapangan. Ketika dua kultur ini bertemu—misalnya startup Jakarta bermitra dengan jaringan distributor Surabaya—hasilnya bisa menjadi mesin pertumbuhan yang lebih seimbang. Insight kuncinya: pemenang bukan hanya yang cepat, tetapi yang mampu menempel pada problem nyata kota-kota penggerak ekonomi.

Tren Pendanaan 2026: dari mengejar valuasi ke mengejar ketahanan bisnis
Tren Pendanaan yang paling terasa belakangan ini adalah perubahan tujuan. Jika beberapa tahun sebelumnya ekosistem cenderung menilai “siapa paling cepat membesar”, kini pembicaraan beralih pada “siapa paling sehat bertahan”. Indikatornya terlihat dari meningkatnya porsi perusahaan yang memilih tidak aktif mencari pendanaan eksternal pada 2025 dibanding 2024. Kenaikan ini bukan berarti pasar modal mengering sepenuhnya, melainkan menandakan lebih banyak pemain mengejar stabilitas operasional, memperbaiki margin, dan menata ulang unit economics sebelum kembali menggalang dana.
Dalam praktiknya, perubahan ini mengubah gaya negosiasi antara founder dan investor. Investor semakin menuntut bukti: retensi pengguna, tingkat gagal bayar yang terkendali, biaya risiko yang transparan, serta kontrol fraud yang terukur. Founder pun merespons dengan strategi berlapis: mengurangi subsidi, memperketat underwriting, menata portofolio produk, dan memindahkan fokus dari akuisisi massal ke segmen yang menguntungkan. Banyak tim memilih “pendanaan cerdas” seperti strategic partnership, revenue-based financing, atau sindikasi dengan institusi, ketimbang sekadar mengejar putaran besar.
Di Jakarta, perubahan ini tampak pada makin seringnya deal berbentuk kemitraan strategis dengan bank atau grup korporasi. Di Surabaya, “pendanaan” sering muncul sebagai kolaborasi supply chain: platform pembiayaan bekerja sama dengan anchor (pabrik, distributor besar, atau jaringan ritel) sehingga risiko bisa diprediksi. Bagi investor, model ini menarik karena arus transaksi jelas, data pembayaran lebih kaya, dan peluang cross-sell lebih besar. Apakah semua model aman? Tidak. Kasus gagal bayar di segmen pinjaman daring pernah menjadi pengingat keras bahwa pertumbuhan tanpa manajemen risiko dapat berujung reputasi buruk. Diskursus itu ramai dibahas media, misalnya pada kanal ekonomi CNN Indonesia yang kerap mengulas isu pinjol dan dampaknya pada kepercayaan publik.
Menariknya, data industri juga mengindikasikan optimisme tenaga kerja: mayoritas perusahaan merencanakan penambahan karyawan, sementara jumlah yang melakukan perampingan menurun tajam. Ini memberi sinyal bahwa manajemen mulai melihat permintaan pasar yang lebih stabil. Bagi ekosistem, kabar baiknya adalah: perekrutan bukan sekadar “membakar cash”, melainkan menambah kapasitas untuk compliance, keamanan, dan pengembangan produk.
Untuk founder yang ingin membaca arah pasar, ada baiknya memantau sumber data dan ringkasan industri seperti Fintech Indonesia serta publikasi asosiasi yang membedah perubahan perilaku perusahaan. Insight kuncinya: pada siklus ini, Pendanaan terbaik bukan selalu yang terbesar, melainkan yang paling selaras dengan strategi menuju profit—dan itu membutuhkan disiplin sejak desain produk, bukan hanya saat due diligence.
Peralihan fokus pendanaan ini membuka jalan ke topik berikutnya: jika uang tidak lagi murah, maka Inovasi teknologi harus benar-benar menghasilkan efisiensi dan kepercayaan.
Inovasi dan Investasi teknologi: AI, Big Data, dan diferensiasi produk yang bisa dibuktikan
Inovasi kini tidak cukup berupa fitur baru di aplikasi. Yang dicari pasar adalah solusi yang meningkatkan akurasi keputusan, menurunkan biaya operasional, dan membuat pengalaman pengguna lebih aman. Di sini, AI dan Big Data menjadi arena utama—meski tantangan talenta masih nyata. Banyak perusahaan mengeluhkan kesenjangan kemampuan di bidang data engineering, model risk, dan AI product. Akibatnya, strategi yang muncul cenderung pragmatis: membangun tim inti kecil yang kuat, memanfaatkan layanan cloud dan toolchain yang matang, lalu fokus pada use case yang paling berdampak.
Contoh yang sering terjadi di Jakarta adalah penggunaan AI untuk customer service dan deteksi anomali transaksi. Dengan volume transaksi ritel tinggi, otomasi respons dan pemantauan real-time bisa memangkas biaya sekaligus meningkatkan kepuasan. Di Surabaya, use case yang menonjol sering terkait supply chain financing: pemodelan risiko berbasis data pembayaran, data pengiriman, dan pola musiman. Ketika sistem membaca bahwa sebuah toko selalu naik penjualannya menjelang periode tertentu, limit pembiayaan bisa disesuaikan lebih akurat. Pertanyaannya: apakah ini hanya “gimmick AI”? Tidak jika dampaknya terukur—misalnya penurunan default, percepatan pencairan, atau efisiensi tim collection.
Pada level infrastruktur, kebutuhan komputasi dan ekosistem AI mendorong diskusi tentang ketersediaan GPU, cloud region, serta kemitraan telco. Isu ini tidak hanya teknis—ia memengaruhi biaya, latensi, dan keamanan data. Perkembangan infrastruktur AI dan kemitraan industri sering menjadi perhatian media, misalnya bahasan tentang ekosistem AI dan dukungan teknologi pada infrastruktur AI NVIDIA dan kolaborasi telekomunikasi yang menggambarkan bagaimana rantai pasok teknologi ikut membentuk strategi digital perusahaan.
Namun, teknologi bukan tujuan akhir. Banyak Startup kini menempatkan literasi keuangan digital sebagai “fitur” yang sama pentingnya dengan scoring. Data industri menunjukkan porsi signifikan perusahaan menjadikan edukasi sebagai bagian strategis perlindungan konsumen. Implementasinya bisa sederhana namun efektif: simulasi cicilan yang jujur, notifikasi pengingat yang tidak menakut-nakuti, penjelasan biaya yang transparan, dan modul edukasi dalam bahasa yang mudah dipahami. Rujukan tentang peningkatan literasi finansial di Indonesia juga sering dibahas di artikel literasi keuangan Kompaspedia, memperkuat konteks bahwa adopsi digital perlu diimbangi pemahaman.
Untuk memperjelas area Investasi teknologi yang lazim pada fase ini, berikut daftar yang sering muncul dalam roadmap tim produk dan risk:
- Data pipeline yang rapi: integrasi transaksi, KYC, perilaku aplikasi, hingga data mitra B2B agar analitik konsisten.
- Fraud engine berbasis aturan dan model: menggabungkan rule-based untuk respons cepat dan ML untuk pola baru.
- Automation operasional: rekonsiliasi, dispute handling, dan collection yang lebih terstruktur.
- Security by design: enkripsi, segregasi akses, dan audit trail untuk memudahkan kepatuhan.
- Observability: monitoring sistem dan performa agar downtime tidak menggerus kepercayaan.
Insight kuncinya: teknologi terbaik adalah yang mengubah proses mahal menjadi sederhana—dan membuat pengguna merasa aman tanpa harus paham detail teknisnya.
Tata kelola, keamanan digital, dan perlindungan konsumen: fondasi kepercayaan di fase matang
Ketika industri memasuki fase yang lebih dewasa, tata kelola berubah dari “dokumen untuk investor” menjadi kebiasaan sehari-hari. Data asosiasi menunjukkan kepatuhan terhadap kode etik meningkat pada 2025, sementara adopsi standar keamanan informasi internasional seperti ISO/IEC 27001 sudah menjadi arus utama di kalangan perusahaan. Ini penting karena Fintech mengelola data sensitif: identitas, riwayat transaksi, hingga pola perilaku. Sekali kepercayaan runtuh, biaya pemulihannya bisa jauh lebih mahal daripada biaya pencegahan.
Ancaman eksternal tetap ada—fraud, social engineering, dan phishing—namun catatan industri menyebut penurunan kasus phishing serta peningkatan kapasitas internal untuk mitigasi risiko. Di Jakarta, yang sering terjadi adalah serangan yang memanfaatkan kepanikan pengguna: tautan palsu, akun CS tiruan, atau penipuan berkedok promo. Di Surabaya, pola bisa merembet ke ranah B2B: invoice palsu, perubahan rekening tujuan, atau manipulasi alur persetujuan pembayaran di perusahaan. Solusinya pun harus berbeda: edukasi konsumen ritel untuk mengenali modus, sementara untuk korporasi perlu SOP otorisasi dan verifikasi berlapis.
Dalam operasional harian, tata kelola yang baik tampak dari hal-hal kecil namun krusial: pemisahan tugas, kontrol akses berbasis peran, audit log yang tidak bisa diubah, dan pelaporan insiden yang cepat. Perusahaan yang matang juga menyiapkan jalur komunikasi yang jelas ketika terjadi gangguan—bukan menunggu viral. Ini selaras dengan arah regulasi yang dinilai makin mendukung inovasi, terutama untuk investasi digital dan perluasan inklusi. Dukungan tersebut bukan berarti longgar; justru mendorong standar yang lebih jelas agar pertumbuhan tidak mengorbankan konsumen.
Untuk menggambarkan praktik yang sering dipakai, bayangkan “Raka” di Jakarta mengalami lonjakan komplain: pengguna menerima pesan phishing yang meniru brand aplikasinya. Timnya tidak cukup hanya memasang banner peringatan. Mereka menutup celah proses: memperketat verifikasi komunikasi resmi, mempercepat takedown akun palsu, menambahkan pemeriksaan domain di email, dan menyiapkan alur pelaporan di dalam aplikasi. Sementara itu “Dini” di Surabaya meminta fitur “approval matrix” untuk transaksi B2B di perusahaannya—setiap perubahan rekening vendor harus disetujui dua orang berbeda. Hasilnya, fraud invoice turun drastis, dan operasi kembali fokus pada penjualan.
Berikut tabel ringkas yang menghubungkan indikator kematangan industri (berdasarkan tren 2024–2025) dengan implikasinya bagi strategi 2026 di Jakarta dan Surabaya.
Indikator ekosistem |
Arah perubahan (2024–2025) |
Dampak praktis bagi strategi 2026 |
Contoh penerapan di Jakarta vs Surabaya |
|---|---|---|---|
Fokus B2B |
Proporsi fintech yang menarget B2B naik kuat (dari sekitar 27% menjadi 50%) |
Produk harus siap integrasi, SLA jelas, dan sales cycle lebih panjang tapi stabil |
Jakarta: integrasi ERP dan payment gateway; Surabaya: pembiayaan invoice berbasis supply chain |
Kepatuhan kode etik |
Meningkat (sekitar 73,77% pada 2025) |
Standar layanan dan perlindungan konsumen makin jadi pembeda brand |
Jakarta: transparansi biaya dan dispute; Surabaya: kontrak B2B dan tata kelola limit |
Standar keamanan (ISO/IEC 27001) |
Adopsi tinggi (sekitar 88,04%) |
Audit, kontrol akses, dan manajemen risiko jadi syarat kemitraan institusional |
Jakarta: proteksi akun massal; Surabaya: kontrol perubahan rekening vendor |
Sikap terhadap pendanaan eksternal |
Lebih banyak perusahaan tidak aktif mencari pendanaan |
Prioritas profitabilitas, efisiensi, dan monetisasi yang terukur |
Jakarta: optimasi CAC/LTV; Surabaya: margin pembiayaan dan kualitas portofolio |
Literasi keuangan digital |
Semakin diprioritaskan (sekitar 43,44% menjadikannya program strategis) |
Edukasi menjadi bagian desain produk untuk menekan komplain dan fraud |
Jakarta: modul edukasi dalam aplikasi; Surabaya: pelatihan untuk admin keuangan UMKM |
Insight kuncinya: pada fase matang, kecepatan inovasi harus berjalan seiring dengan disiplin keamanan—sebab kepercayaan adalah “modal” yang paling sulit dicari ulang.

Ekspansi pasar, literasi, dan kolaborasi lintas sektor: cara Jakarta dan Surabaya memenangkan inklusi
Ekspansi layanan Fintech tidak lagi hanya tentang menambah kota di peta, melainkan memperluas segmen yang dilayani dengan tepat. Data industri menunjukkan pengguna masih banyak terkonsentrasi di Jabodetabek, namun dorongan keluar kawasan metropolitan menguat seiring bertambahnya layanan digital dan model bisnis baru. Ini bukan sekadar “go-to-market”; ini soal menyesuaikan produk dengan realitas lokal: cara orang bertransaksi, kebiasaan mencicil, hingga jam operasional pedagang.
Di Jakarta, ekspansi segmen sering berarti memperdalam penetrasi: dari pembayaran ke pinjaman, lalu ke asuransi mikro atau investasi ritel. Tantangannya adalah kompetisi ketat dan tuntutan pengalaman pengguna yang mulus. Di Surabaya, ekspansi sering berarti memperluas jejaring mitra: dari satu pasar grosir ke klaster lain, dari satu asosiasi UMKM ke koperasi, dari satu perusahaan logistik ke jaringan lintas kota. Keunggulan Surabaya adalah efek jaringan berbasis komunitas bisnis—sekali terbukti membantu arus kas, rekomendasi menyebar cepat.
Literasi keuangan menjadi jembatan penting agar ekspansi tidak memicu masalah baru. Tren literasi yang membaik di Indonesia didorong edukasi pemerintah, lembaga keuangan, dan komunitas. Di lapangan, perusahaan yang serius biasanya membuat program gabungan: konten edukasi, pelatihan offline di pasar atau kampus, serta mekanisme perlindungan konsumen yang mudah dipakai. Dalam pameran industri seperti Indonesia Fintech Summit and Expo, edukasi publik sering menjadi panggung utama—mendorong ekosistem agar tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun pemahaman.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kata kunci lain. Sekretaris jenderal asosiasi industri menekankan pentingnya kerja sama dengan sektor riil untuk memperkuat trust, standardisasi keamanan, literasi, dan inklusi. Jika diterjemahkan ke strategi kota: Jakarta unggul dalam membangun aliansi dengan institusi keuangan besar, regulator, dan perusahaan teknologi; Surabaya unggul dalam mengorkestrasi pelaku rantai pasok—pabrik, distributor, retailer, sampai kurir. Ketika dua kekuatan ini disatukan, skala dan kedalaman pasar bisa dicapai bersamaan.
Untuk pelaku yang ingin menavigasi ekspansi, rujukan kebijakan dan statistik regulator juga penting. Banyak tim kepatuhan dan risk memantau pembaruan pada situs OJK dan rilis Statistik Fintech OJK agar ekspansi produk tetap selaras dengan aturan dan praktik yang diakui industri.
Di akhir siklus ekspansi, pertanyaan yang paling relevan bukan “berapa cepat bertambah pengguna”, melainkan “apakah layanan ini membuat aktivitas ekonomi lebih lancar dan adil?”. Bagi Raka, jawabannya terlihat ketika merchant tidak lagi kehilangan penjualan karena sistem gagal; bagi Dini, jawabannya muncul ketika piutang lebih tertib dan pemasok dibayar tepat waktu. Insight kuncinya: ekspansi terbaik adalah yang memperbesar dampak di sektor riil—karena dari sanalah pertumbuhan yang berkelanjutan memperoleh pijakan.
Untuk memperkaya perspektif visual dan diskusi publik, video berikut sering membantu memahami arah pasar dan pembahasan ekosistem fintech di Indonesia.