- Survei lintas negara menunjukkan jarak yang mengkhawatirkan antara besarnya krisis dunia dan tingkat pemahaman publik tentang dampaknya.
- Di tengah jumlah pengungsi yang menembus sekitar 120 juta menurut rujukan UNHCR pada pertengahan dekade ini, ketidaktahuan publik masih tinggi, terutama pada penyebab dan rantai akibatnya.
- Kesadaran global tidak selalu mengikuti data; arus informasi, emosi, dan algoritma sering menentukan isu mana yang “terlihat” dan mana yang tenggelam.
- Temuan riset Indonesia memperlihatkan ruang besar untuk perbaikan: misinformasi iklim kuat di media sosial, dan sebagian responden memaknai krisis iklim lewat kacamata politik atau moral.
- Ketika masyarakat tak menghubungkan konflik, iklim, dan migrasi paksa, respons kebijakan cenderung reaktif—padahal krisis pengungsi menuntut kesiapan jangka panjang.
Di balik angka-angka yang terus menanjak tentang perpindahan paksa, ada pertanyaan yang lebih sunyi: mengapa sebagian publik dunia seolah tidak melihat urgensi yang sama? Banyak orang mengikuti berita singkat, namun gagal mengaitkan peristiwa di satu wilayah dengan dampaknya di wilayah lain—dari harga pangan, energi, hingga stabilitas sosial. Di saat survei internasional dan laporan-laporan risiko global menggambarkan dekade yang sarat konflik, gangguan lingkungan, dan disinformasi, ruang perhatian masyarakat justru terfragmentasi oleh notifikasi dan polarisasi. Akibatnya, kesadaran masyarakat tentang isu global sering menjadi “musiman”: meningkat saat tragedi viral, lalu menurun ketika sorotan berpindah.
Gambaran ini makin kontras ketika dibenturkan dengan realitas pengungsi. UNHCR mencatat jumlah orang yang terpaksa mengungsi secara global mencapai sekitar 120 juta pada periode terkini di pertengahan dekade, dengan Suriah tetap menjadi salah satu krisis pengungsian terbesar. Namun, tingginya jumlah pengungsi tidak otomatis membuat publik memahami akar masalah—mulai dari konflik berkepanjangan, represi politik, sampai tekanan iklim yang memperparah perebutan sumber daya. Di Indonesia, riset CfDS UGM memperlihatkan bagaimana keraguan dan misinformasi iklim dapat membelokkan diskusi publik. Ketika iklim dan migrasi dipahami secara keliru, respons solidaritas bisa goyah, dan kebijakan bisa terseret sentimen jangka pendek.
Survei Kesadaran Global: Mengapa Ketidaktahuan Publik Tetap Tinggi di Tengah Krisis Dunia
Istilah kesadaran global terdengar besar, tetapi wujudnya sangat konkret: apakah orang mampu menyebutkan krisis yang sedang berlangsung, menjelaskan penyebabnya, dan memahami konsekuensinya bagi kehidupan sehari-hari. Dalam banyak diskusi kebijakan, ada asumsi bahwa semakin sering publik terpapar berita, semakin tinggi pula pemahaman publik. Kenyataannya, paparan tidak selalu berubah menjadi pengetahuan. Di sinilah paradoks ketidaktahuan publik muncul, bahkan saat krisis dunia kian kasat mata.
Salah satu alasan utamanya adalah “kompetisi perhatian”. Peristiwa global saling berebut ruang di layar ponsel: konflik bersenjata, bencana alam, pemilu besar, skandal selebritas, hingga tren belanja. Tanpa panduan konteks, publik cenderung mengingat kejadian yang paling emosional atau paling dekat secara geografis. Ketika krisis terjadi jauh dari tempat tinggal, ia dianggap tidak relevan—padahal rantai pasok, harga komoditas, dan migrasi lintas negara membuktikan sebaliknya.
Gambaran suram tentang dekade mendatang juga menguat dalam berbagai rangkuman risiko global yang melibatkan ratusan pakar. Mereka menempatkan konflik, kerentanan lingkungan, dan disinformasi sebagai kombinasi yang saling memperkuat. Namun, bahasa laporan sering teknis, sehingga sulit diterjemahkan menjadi cerita yang “menempel” di benak publik. Akibatnya, kesadaran masyarakat berkembang tidak merata: ada yang sangat peka pada isu tertentu (misalnya ekonomi rumah tangga), tetapi minim pengetahuan tentang keterkaitan global.
Fragmentasi informasi dan efek algoritma terhadap pemahaman publik
Algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan waktu tonton, bukan memperluas wawasan. Jika seseorang sering menonton konten hiburan, platform akan memberi lebih banyak hiburan. Jika seseorang sering mengklik konten bernada marah atau sensasional, arus kontennya akan makin condong ke sana. Dalam kondisi ini, survei dapat menunjukkan orang merasa “cukup tahu”, padahal yang mereka konsumsi hanyalah potongan-potongan informasi tanpa konteks.
Bayangkan seorang tokoh fiktif, Dina, pekerja ritel yang pulang malam dan hanya punya waktu 20 menit untuk scroll. Dina melihat video singkat tentang kapal pengungsi di Mediterania, lalu beralih ke konten diskon belanja. Ia tersentuh sebentar, tetapi tidak tahu mengapa orang meninggalkan negaranya, apa peran konflik, atau bagaimana kebijakan suaka bekerja. Dina bukan tidak peduli; ia kekurangan jembatan yang menghubungkan emosi sesaat dengan pengetahuan yang bisa dipakai untuk menilai kebijakan.
Kelelahan empati dan normalisasi krisis dunia
Ketika krisis terjadi terus-menerus, sebagian orang mengalami kelelahan empati: merasa tidak sanggup menampung semua tragedi. Ini memunculkan mekanisme perlindungan diri, seperti menghindari berita atau menyederhanakan masalah menjadi “itu urusan mereka”. Dalam jangka panjang, krisis menjadi normal, dan isu global kehilangan daya dorong untuk mengubah perilaku publik—misalnya dukungan pada anggaran kemanusiaan atau penerimaan pengungsi.
Di titik ini, peran jurnalisme konteks dan pendidikan kewargaan global menjadi krusial. Publik tidak hanya butuh angka, tetapi penjelasan sebab-akibat yang bisa diverifikasi. Insight kuncinya: ketidaktahuan publik sering bukan soal kurangnya informasi, melainkan absennya struktur pengetahuan yang membuat informasi itu bermakna.

Jumlah Pengungsi dan Krisis Pengungsi: Data Besar, Dampak Lokal, dan Jarak Emosional Publik
Ketika UNHCR melaporkan bahwa orang yang terpaksa mengungsi di seluruh dunia telah mencapai sekitar 120 juta pada periode pertengahan dekade ini, angka itu tidak hanya menandai besarnya penderitaan, tetapi juga menguji kapasitas sistem internasional. Jumlah pengungsi yang sangat tinggi biasanya muncul dari kombinasi konflik, penganiayaan, dan runtuhnya layanan dasar. Namun, bagi banyak orang, angka itu sulit dibayangkan. Di sinilah jarak emosional terbentuk: semakin besar angkanya, semakin abstrak maknanya.
Dalam krisis pengungsi, satu keluarga yang melintasi perbatasan membawa cerita yang amat spesifik—kehilangan rumah, sekolah anak yang terhenti, trauma kekerasan. Akan tetapi, diskusi publik sering mereduksinya menjadi perdebatan administratif: kuota, dokumen, atau beban fiskal. Ini bukan berarti aspek kebijakan tidak penting, tetapi bila hanya itu yang dibicarakan, publik kehilangan titik masuk untuk memahami kemanusiaannya.
Suriah sebagai simbol krisis berkepanjangan dan efeknya pada persepsi global
Suriah masih sering disebut sebagai salah satu krisis pengungsian terbesar, dengan jutaan orang terpaksa mengungsi di dalam dan luar negeri. Bagi publik di luar kawasan, Suriah kerap muncul sebagai “berita lama”. Padahal, krisis berkepanjangan memiliki pola yang berbeda dari bencana sesaat: kebutuhan pendidikan, pekerjaan, dan integrasi jangka panjang menjadi lebih besar, sementara simpati publik cenderung menurun.
Di banyak negara, survei tentang sikap terhadap pengungsi menunjukkan paradoks lain: secara prinsip, mayoritas orang dewasa setuju bahwa mereka yang lari dari perang atau penganiayaan berhak mencari perlindungan. Namun, ketika masuk ke level kebijakan lokal—penempatan tempat tinggal, akses kerja, atau bantuan sosial—dukungan bisa melemah karena kekhawatiran kompetisi ekonomi dan keamanan. Ini memperlihatkan celah antara nilai moral dan persepsi risiko.
Dampak lokal yang sering tak dikaitkan dengan isu global
Rantai dampak krisis dunia sering singgah di kehidupan sehari-hari tanpa label “global”. Misalnya, konflik memengaruhi pasokan energi dan pangan, lalu berdampak pada inflasi. Kekeringan memperparah panen, memicu perpindahan internal, dan meningkatkan tekanan di kota-kota. Ketika publik tidak mengaitkan gejala lokal ini dengan isu global, mereka cenderung menyalahkan aktor yang dekat: pemerintah daerah, pendatang, atau kelompok tertentu.
Agar pemahaman publik meningkat, narasi perlu menjembatani data besar dengan pengalaman manusia. Satu insight yang sering terlupakan: krisis pengungsi bukan semata urusan “mereka yang pergi”, tetapi juga ujian bagi institusi, solidaritas, dan ekonomi “kita” yang menerima dampaknya langsung maupun tidak.
Untuk melihat bagaimana diskusi publik tentang pengungsi dibentuk, banyak peneliti menyoroti peran media, kebijakan, dan pendidikan. Gambaran visual dan testimoni dapat mengubah cara orang memaknai angka, terutama ketika disertai konteks yang jernih dan verifikasi yang ketat.
Kesadaran Masyarakat di Indonesia: Pelajaran dari Survei CfDS UGM tentang Skeptisisme dan Misinformasi Iklim
Indonesia menawarkan studi kasus penting tentang bagaimana kesadaran masyarakat dapat tertahan bukan karena ketiadaan isu, melainkan karena cara isu itu dipahami. Riset CfDS UGM yang dilakukan melalui survei daring terhadap 2.401 responden (periode Agustus–September 2023, margin galat sekitar 5% pada tingkat kepercayaan 95%) menggambarkan adanya skeptisisme terhadap krisis iklim serta tantangan literasi digital. Komposisi responden didominasi perempuan, banyak dari Gen Z, dengan latar pendidikan yang relatif tinggi. Ini penting: bila kelompok yang relatif melek internet saja masih rentan, maka kelompok lain bisa menghadapi tantangan yang lebih berat.
Di tengah fakta bahwa Indonesia memiliki hutan hujan tropis luas yang berperan besar bagi sistem iklim global, temuan tentang adanya porsi masyarakat yang menyangkal krisis iklim menjadi alarm. Angka yang sering dikutip dari temuan tersebut menunjukkan sekitar 18% masuk kategori penyangkal. Dalam konteks kesadaran global, ini berdampak karena krisis iklim merupakan penguat risiko: ia memperparah konflik sumber daya, memperbesar kemiskinan, dan pada akhirnya mendorong migrasi paksa—yang berujung pada krisis pengungsi.
Pola keyakinan: dari sains ke moralitas dan politik
Salah satu temuan yang menonjol adalah bagaimana sebagian responden memaknai krisis iklim bukan sebagai akibat aktivitas manusia, melainkan sebagai “hukum alam” atau dikaitkan dengan moralitas. Sebagian menyetujui narasi bahwa bencana terkait dengan perilaku yang dianggap menyimpang dari ajaran agama. Ada pula yang percaya ilmuwan dikendalikan elit. Pola semacam ini membuat diskusi publik mudah terseret ke debat identitas, bukan evaluasi bukti.
Efeknya konkret. Misalnya, ketika banjir besar terjadi, diskusi bisa berhenti pada saling menyalahkan moral, bukan pada tata ruang, emisi, atau drainase. Padahal, kebijakan adaptasi membutuhkan dukungan warga: dari pengelolaan sampah hingga relokasi dari zona berisiko. Jika kerangka berpikirnya keliru, kebijakan mudah ditolak atau dianggap agenda tersembunyi.
Media sosial sebagai pusat distribusi isu dan tantangan literasi digital
Riset tersebut juga menunjukkan isu krisis iklim paling sering ditemui di media sosial, dengan platform seperti Instagram menjadi sumber dominan, diikuti YouTube dan X. Banyak responden merasa “sering melihat” konten iklim, tetapi hanya sebagian kecil yang terdorong untuk menggali lebih jauh. Ini menegaskan bahwa paparan tidak sama dengan pembelajaran.
Di sini, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi, melainkan keterampilan mengecek sumber, memahami konteks, dan mengenali teknik manipulasi. Kelompok penyebar misinformasi juga berevolusi: sebagian tidak lagi menolak krisis iklim mentah-mentah, tetapi menggeser narasi ke “solusi ilmiah tidak akan berhasil”, sehingga publik menjadi apatis. Insight penutupnya: tanpa memperkuat literasi digital, pemahaman publik tentang iklim akan rapuh, dan dampaknya merembet ke cara kita menilai konflik serta migrasi paksa.
Menjembatani Survei Kesadaran Global dengan Kebijakan: Mengapa Disinformasi Membuat Krisis Dunia Terlihat Jauh
Ketika survei kesadaran global menemukan adanya ketimpangan antara besarnya ancaman dan pemahaman warga, itu bukan sekadar statistik komunikasi. Dampak akhirnya menyentuh kebijakan: anggaran kemanusiaan, penerimaan pengungsi, hingga dukungan terhadap transisi energi. Disinformasi berperan sebagai “kabut” yang mengubah krisis nyata menjadi perdebatan semu, sehingga publik sulit membedakan mana masalah mendesak dan mana gangguan.
Disinformasi juga bekerja dengan cara yang lebih halus daripada kebohongan terang-terangan. Ia bisa berupa pemilihan data yang sengaja timpang, framing yang menakut-nakuti, atau teori konspirasi yang menawarkan penjelasan sederhana untuk masalah kompleks. Dalam konteks iklim, misalnya, narasi “semua siklus alam” membuat orang meremehkan peran emisi. Dalam konteks migrasi, narasi “semua pendatang berbahaya” menghapus fakta bahwa banyak orang mengungsi karena perang atau penganiayaan.
Tabel: contoh distorsi umum dan dampaknya pada pemahaman publik
Distorsi narasi |
Contoh bentuk di ruang publik |
Dampak pada kesadaran masyarakat |
Risiko terhadap respons krisis |
|---|---|---|---|
Konspirasi elit |
Ilmuwan dikendalikan kelompok tertentu; data “dibuat-buat” |
Mengikis kepercayaan pada sains dan lembaga |
Kebijakan iklim/pengungsi ditolak karena dianggap agenda tersembunyi |
Moral panic |
Krisis dianggap hukuman moral, bukan masalah struktural |
Diskusi bergeser dari sebab-akibat ke penghakiman |
Adaptasi dan mitigasi terhambat; fokus pada simbol, bukan solusi |
Pengalihan isu |
Menonjolkan kasus kriminal tunggal untuk menilai semua pengungsi |
Menciptakan generalisasi dan ketakutan |
Solidaritas menurun; kebijakan proteksi melemah |
Fatalisme solusi |
Mengakui krisis, tetapi menyebut semua solusi “sia-sia” |
Mendorong apatis dan sinisme |
Partisipasi publik turun; tindakan kolektif gagal terbentuk |
Daftar langkah praktis untuk memperkuat pemahaman publik tanpa menggurui
- Ubah angka menjadi cerita terverifikasi: kombinasikan data jumlah pengungsi dengan kisah keluarga, sekolah, dan pekerjaan yang hilang, lengkap dengan konteks asal-usul konflik.
- Bangun kebiasaan “cek dua sumber”: satu dari media arus utama, satu dari lembaga rujukan (misalnya UNHCR atau badan meteorologi).
- Latih deteksi framing: tanyakan, “siapa yang diuntungkan bila saya marah atau takut?” sebelum membagikan konten.
- Gunakan jembatan lokal: kaitkan isu global dengan pengalaman sehari-hari seperti harga pangan, cuaca ekstrem, dan kesehatan.
- Fasilitasi dialog komunitas: forum RT, kampus, dan tempat ibadah bisa menjadi ruang klarifikasi, selama ada moderator yang adil dan sumber data jelas.
Kebijakan publik yang stabil membutuhkan dukungan sosial yang stabil pula. Jika ketidaktahuan publik dibiarkan, respons terhadap krisis dunia akan mudah dipelintir menjadi isu partisan. Insight akhirnya: melawan disinformasi bukan hanya pekerjaan pemeriksa fakta, melainkan bagian dari ketahanan sosial.
Dari Kesadaran Global ke Aksi: Menghubungkan Krisis Iklim, Konflik, dan Pengungsi dalam Narasi yang Bisa Dipahami Publik
Salah satu penyebab mengapa survei kesadaran global sering menunjukkan pemahaman yang timpang adalah karena publik menerima isu-isu besar dalam “kotak” terpisah: iklim sebagai topik lingkungan, konflik sebagai topik geopolitik, dan pengungsi sebagai topik kemanusiaan. Padahal, di lapangan, ketiganya kerap menyatu. Kekeringan dapat memperburuk ketegangan sosial, konflik menghambat bantuan, dan perpindahan penduduk meningkat ketika keselamatan dan mata pencaharian runtuh.
Agar pemahaman publik meningkat, narasi perlu dibuat lintas-kotak tanpa menyederhanakan. Misalnya, ketika membahas banjir dan gelombang panas, jelaskan juga bagaimana gangguan iklim memengaruhi harga pangan, lalu memicu ketidakstabilan. Setelah itu, kaitkan dengan migrasi: orang pindah bukan karena “ingin”, tetapi karena bertahan hidup tidak lagi mungkin. Ketika publik menangkap alur ini, dukungan terhadap kebijakan adaptasi, mitigasi, dan perlindungan pengungsi lebih mudah dibangun.
Studi mini: bagaimana satu hoaks bisa mengubah opini tentang krisis pengungsi
Bayangkan sebuah video pendek beredar: menampilkan kerumunan di pelabuhan, diberi narasi “pengungsi menyerbu dan mengambil pekerjaan”. Video itu viral karena memicu kecemasan ekonomi. Jika tanpa konteks, publik mungkin mendukung kebijakan pengetatan ekstrem. Namun, ketika diverifikasi, video itu ternyata rekaman lama dari peristiwa berbeda, dan kerumunan tersebut adalah warga lokal yang mengantre bantuan setelah badai.
Kasus semacam ini memperlihatkan betapa rapuhnya opini publik ketika literasi verifikasi rendah. Dalam waktu singkat, sebuah distorsi bisa menutup diskusi tentang kewajiban perlindungan internasional. Di titik ini, kerja-kerja komunitas pemeriksa fakta dan edukator publik menjadi “infrastruktur sosial” yang sama pentingnya dengan logistik bantuan.
Menata komunikasi krisis agar publik merasa punya peran
Publik lebih mudah terlibat jika mereka merasa ada tindakan yang masuk akal. Komunikasi yang hanya menakut-nakuti cenderung menghasilkan penolakan. Sebaliknya, komunikasi yang memberikan peran—donasi terarah, relawan bahasa, dukungan sekolah untuk anak pengungsi, atau advokasi kebijakan berbasis data—membuat kesadaran masyarakat berubah menjadi partisipasi.
Di Indonesia, dukungan publik terhadap aksi iklim dalam beberapa survei internasional tergolong tinggi, tetapi berhadapan dengan kantong-kantong skeptisisme dan misinformasi. Ini berarti strategi komunikasi harus berlapis: menguatkan dukungan yang sudah ada, sekaligus merangkul kelompok ragu dengan pendekatan yang menghormati nilai mereka tanpa mengorbankan fakta. Insight penutupnya: ketika keterkaitan antar-krisis dipahami luas, kesadaran global tidak lagi sekadar slogan, melainkan modal sosial untuk menghadapi guncangan berikutnya.